Teknik Budidaya Yang Baik (Good Agricultural Practice) Tanaman Sereh

Tanaman sereh merupakan tanaman herbal yang relatif umum dijumpai ditanam di pekarangan rumah atau kebun-kebun penduduk di Bali. Tanaman ini banyak digunakan dalam Bali kuliner Bali maupun masakan Indonesia juga. Demikian pula umum ditemukan sebagai salah satu bahan pada makanan dan minuman di Asia. Dalam industri spa dan aroma terapi, minyak tanaman sereh telah banyak digunakan sebagai minyak pijat. Terutama di Bali, minyak aromatik yang dihasilkan dari tanaman sereh digunakan untuk dupa atau lilin aromatik. Selain penggunaan tersebut, beberapa penelitian terhadap manfaat minyak sereh juga menunjukkan bahwa adanya manfaat sebagai pestisida dan pengawet. Aplikasi ekstrak sereh menurut beberapa penelitian yang dapat bekerja sebagai pembasmi ulat.

Aspek manfaat terhadap lingkungan dari tanaman sereh tidak dapat dianggap remeh. Tanaman sereh dapat hidup dalam kondisi ekstrim seperti tanah yang miskin hara, tanah basa, lereng terjal, dan hutan yang terdegradasi. Akarnya mampu menahan tanah sehingga banyak direkomendasikan sebagai tanaman pencegah erosi. Tanaman ini termasuk dalam daftar klasifikasi tanaman pelindung tanah atau tanaman konservasi lahan.

Walau demikian, tanaman sereh belum banyak dibudidayakan secara luas dalam konteks tanaman komersial. Di Bali, sebagian besar tumbuh di daerah dengan sumber air terbatas atau di lahan-lahan dengan kontur yang ekstrim. Selain itu, petani Bali umumnya hanya menanam tanaman sereh untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Sementara potensi manfaat yang dihasilkan tanaman ini cukup banyak, baik untuk konsumsi, farmakologi, pestisida, maupun aroma. Sehingga budidaya tanaman sereh merupakan potensi ekonomi bagi petani. Posisi unik dari Bali sebagai salah satu tujuan pariwisata dunia memberi Bali kesempatan yang baik untuk memasarkan manfaat alami dari sereh.

Teknik Budidaya yang baik (Good Agricultural Practice = GAP) merupakan suatu upaya yang dilakukan banyak negara untuk meningkatkan produksi, produktifitas, dan mutu produk yang aman dikonsumsi. Perbedaan mendasar dalam teknik budidaya dengan menerapkan GAP terletak pada tujuan proses budidaya yang tidak hanya berorientasi pada hasil namun juga tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dengan tetap mengupayakan lahan produksi yang subur. Pencapaian hasil produksi yang tinggi dicapai melalui efisiensi produksi dan kemampuan melihat celah pasar potensial produk pertanian tersebut.

View/Download Complete Module