Model Bisnis Dan Manajemen Skala Usaha Kecil: Produk Tanaman Tropis

Para pelaku agribisnis sekala usaha kecil di Indonesia hingga kini umumnya masih mempunyai berbagai keterbatasan. Kecilnya sekala usaha membuat posisi tawar mereka relatif lemah baik dalam mengakses modal maupun pasar. Salah satu cara memperbaiki posisi tawar mereka adalah dengan peningkatan skala ekonomi (economic of scale) usaha. Hal ini dapat dilakukan melalui pembentukan jalinan kemitraan usaha yang beroperasi dalam sebuah sistem agribisnis terintegrasi hulu-hilir, yakni saling ketergantungan antara subsistem hulu, subsistem agribisnis tengah, subsistem agribisnis hilir serta subsistem penunjang. Setiap susbsitem merupakan perusahaan agribisnis yang harus dapat bekerja secara efisien.

Kemitraan usaha agribisnis harus di bangun atas landasan saling membutuhkan, saling menguntungkan, dan saling memperkuat masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya. Melalui kemitraan usaha memungkinkan untuk meraih peningkatan produktivitas, efisiensi,jaminan kualitas, kuantitas dan kontinuitas, serta berbagi resiko sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Terdapat beberapa pola kemitraan usaha yang bisa dijadikan pilihan yaitu pola inti plasma, subkontrak, dagang umum, keagenan dan waralaba, yang bisa dibangun mulai tahapan pemula hingga menuju ke tahapan utama yakni kemitraan dalam bentuk saham.

Dalam beberapa tahun terakhir aktualisisasi kemitraan usaha agribisnis telah berhasil diwujudkan melalui pembentukan model klaster bisnis. Model klaster bisnis ini telah terbukti mampu menjadi alat yang baik untuk mengatasi hambatan akibat ukuran usaha kecil. Penerapan model klaster bisnis merupakan salah satu strategi yang dinilai sangat tepat meningkatkan daya saing industri berbasis pertanian yang berkelanjutan. Model bisnis ini menyarankan pengelompokkan industri inti yang saling berhubungan, baik dengan industri pendukung (supporting industries) maupun industri terkait (related industries). Model klaster ini cocok dikembangkan pada komoditas unggulan yang dicirikan memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan pohon industri yang lengkap . Contohnya, adalah pengembangan klaster bisnis industri rumput laut di 60 daerah di Indonesia.

Berdasarkan hasil studi, model klaster bisnis juga cocok diterapakan sebagai alternatif pengembangan sistem agribisnis berbasis komoditi bambu tabah. Keunggulan tanaman bambu tabah adalah selain sebagai tanaman penghasil bahan pangan berupa rebung bambu juga sebagai penghasil bahan baku industri. Klaster bisnis komoditi bambu tabah dibangun dengan melibatkan beberapa sub sistem (komponen) atau institusi, yaitu Kelompok Tani, Lembaga ULP2 (Lembaga Usaha Lepas Panen Pedesaan), perusahaan penghela, BDS (Business Development Services) dan Lembaga Pembiayaan Usaha (Bank atau LPBB). Berdasarkan hasil analisis secara ekonomi, pengembangan agribisnis berbasis bambu tabah dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk memajukan sektor agribisnis skala usaha kecil.

View/Download Complete Module