Profil Prof. Purwiyatno Hariyadi

E-mail Print PDF
Article Index
Profil Prof. Purwiyatno Hariyadi
Page 2
All Pages

Sinergi Riset dan Industri

Ketika keputusan menjadi pengajar di Institut Pertanian Bogor (IPB) dipilih, ketimbang meneruskan kariernya di salah satu perusahaan penghasil produk kecantikan terbesar di Indonesia. Tidak membuat pria asal Pati ini menyesal, lantaran hasil penelitian produk hilir sawitnya mulai dilirik oleh kalangan industri.

"Kita banyak mengembangkan produk hilir kelapa sawit, misalnya minyak sawit merah. Kendati baru tahap skala pilot project, namun sudah banyak kalangan industri meminta untuk diproduksi secara komersial”, ungkap Purwiyatno Hariyadi kepada InfoSAWIT ketika ditemui di kantornya di Bogor.

Dia pun menegaskan, saat ini kita lebih fokus pada penelitian dan pengembangan. Makanya bila ingin diproduksi secara massal belum bisa dilakukan karena masih banyak kendala, dari mulai penyiapan karyawan, proses pencampuran produk dan efisiensi. Walaupun dia menyayangkan kalau hanya fokus pada produksi, konotasinya lembaga ini menjadi pabrik semata. Padahal sejatinya lembaga ini adalah lembaga riset yang memiliki kredibilitas tinggi.

Pria yang akrab disapa Pur, saat ini menjabat sebagai Direktur Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center IPB. Dia pun mempunyai obsesi, kedepannya lembaga tersebut bisa menjadi research center di IPB seperti di negara-negara maju yang bisa menghasilkan penelitian-penelitian mutakhir khususnya di bidang industri hilir sawit.

Kesehariannya selain menjadi peneliti, juga menjadi dosen. Walaupun ketika masih anak-anak, cita-cita kecilnya ingin menjadi Insinyur. Baginya menjadi dosen adalah panggilan jiwa.

Bapak tiga anak ini bercerita, ketika lulus dari IPB langsung bekerja di perusahaan penghasil produk kecantikan, PT Mustika Ratu selama tiga tahun, kariernya cukup baik pasalnya sempat menduduki posisi sebagai Quality Control Manager.

“Ketika awal masa bekerja disana, saya sangat termotivasi sekali, namun setelah menjalani aktivitas rutin saya mulai mengalami kejenuhan dan berusaha mencari tantangan baru dengan mencari kesempatan mengajar,” ungkap Purwiyatno.

Dia menambahkan, disaat itulah saya merasa ada panggilan jiwa untuk mengambil keputusan keluar dari perusahaan dan lebih memilih bekerja menjadi dosen di IPB. “Pekerjaan yang paling saya sukai adalah mengajar dan memiliki kepuasan tersendiri bila mahasiswa yang saya ajarkan menjadi lebih bisa memahami dan mengerti ilmu apa yang saya sampaikan kepada mereka,” pungkas mantan Ketua Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) ini.

Lebih lanjut ungkapnya, keluarga memiliki pengaruh cukup besar. Apalagi keluarga kebanyakan berprofesi menjadi guru, maka secara tidak langsung mendorong Purwiyatno untuk menjadi dosen. “Saya banyak belajar tentang disiplin dan proses belajar dari orangtua, karena orangtua saya memandang pendidikan itu penting,” ungkap Purwiyatno yang memperoleh gelar Doktor dari University of Wisconsin, Madison Amerika Serikat (AS) dalam Bidang Teknik Pengolahan Pangan.

Kendati menurutnya, basic keilmuannya bukan spesifik pada minyak kelapa sawit. Namun lebih umum pada ilmu minyak makan. Malahan ketika kuliah di AS meneliti tentang minyak susu, mentega dan lemak susu.

Ternyata teknik yang dia dapatkan dari sana dan ketika diterapkan di Indonesia metodenya sama. Apalagi potensi minyak makan di Indonesia paling besar adalah minyak sawit. “Sehingga ketika meneliti tentang minyak sawit tidak ada masalah karena metodenya sama dengan minyak makan lainnya,” ujar Purwiyatno.



Presentations