E-mail Print PDF
CHEMICAL SECURITY WORKSHOP
and
FOOD DEFENSE WORKSHOP
Hotel Noe+ Green Savana, 7-8 and 9-10 November 2016

CSW&FD Workshop

  Populasi penduduk Indonesia saat ini mencapai lebih dari 260 juta jiwa dan menjadikan Indonesia sebagai negara dengan populasi penduduk tertinggi keempat di dunia. Jumlah tersebut diprediksi akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan angka kelahiran nasional sebesar 1.5%. Namun demikian, pertumbuhan penduduk yang pesat tersebut belum diikuti peningkatan produksi pangan dalam negeri yang signifikan. Sehingga, pemenuhan kebutuhan pangan nasional masih mengandalkan impor pangan dari negara asing. Nilai impor pangan di prediksi menjadi US$ 152 miliar di tahun 2050; meningkat sebanyak 20 kali lipat dari nilai impor di tahun 2009 (data proyeksi dari Australian Bureau of Agricultural and Resource Economics and Sciences, ABARES). Dengan nilai import tersebut, Indonesia merupakan pasar yang cukup besar dalam perdagangan pangan dunia.

  Pangan yang diimpor dapat berasal dari berbagai negara di dunia. Dengan demikian, kemungkinan adanya perbedaan mutu produk pangan (nutrisi, penggunaaan bahan tambahan pangan, residu kimia, penyalahgunaan penggunaan bahan kimia, dll.) mungkin saja terjadi. Ketika seluruh masyarakat Indonesia dapat mengakses makanan impor tersebut, maka Indonesia sangat rentan terhadap resiko kontaminasi pangan. Di sisi lainnya, Indonesia juga merupakan bagian dari rantai global pangan dunia. Sehingga, jika ekspor pangan Indonesia terkontaminasi, maka dapat juga membahayakan konsumen produk pangan Indonesia pada negara-negara asing.

  Kontaminasi pangan (baik secara fisik, kimiawi maupun biologis) yang tidak disengaja (unintentional contamination) dapat dicegah dengan menerapkan strategi manajemen resiko (risk management strategies), berupa Good Agricultural Practices (GAP); Good Manufacturing Practices (GMP); Good Hygiene Practices (GHP)/ Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP); dan Hazard Analysis and Critical Control Point ( HACCP). Hal ini merupakan bagian dari kerangka berpikir program kemanan pangan (food safety). Namun, jika kontaminasi yang dilakukan merupakan suatu aktivitas yang disengaja/terencana (intentional contamination), maka area ini merupakan bagian dari pertahanan pangan (food defense).

  Food defense dapat didefinisikan sebagai usaha mitigasi yang terfokus (focused mitigation strategies) untuk perlindungan produk makanan dari kontaminasi yang disengaja baik secara biologis, kimiawi, dan fisik. Agen atau kontaminan yang ditambahkan kedalam produk makanan tersebut dapat berupa bahan yang mungkin/tidak mungkin berada pada produk tersebut. Sebagai contoh, produk susu kemungkinan terkontaminasi oleh sejumlah bakteri (E. coli, Salmonella, Listeria) karena pipa-pipa pada areal produksi tidak higienis. Kontaminasi ini dapat dicegah dengan prosedur SSOP yang harus dijalankan dengan baik. Jika produk daging sapi terkontaminasi dengan penambahan pestisida berbasis nikotin yang dilakukan oleh karyawan supermarket seperti yang terjadi di Michigan, Amerika tahun 2003, maka tindakan ini sudah terkait dengan aktivitas kontaminasi yang terencana. Tindakan ini hanya dapat dicegah oleh pihak industri/distributor dengan penerapan analisis kerentanan (vulnerability assessment). Jika dengan HACCP kita dapat mengetahui titik kendali kritis (critical control point), maka dari hasil analisis kerentanan ini akan diketahui ‘hot point’ (most vulnerable node) atau titik dimana penambahan kontaminan kemungkinan besar akan dilakukan.

  Penambahan kontaminan secara sengaja ini dapat berakibat buruk, seperti adanya korban jiwa maupun terganggunya kondisi perekonomian suatu bangsa pada skala yang besar. Mengingat pentingnya program pertahanan pangan ini, maka Departemen Pertanian Amerika Serikat (United States Department of Agriculture, USDA) bekerjasama dengan Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan Teknologi Pangan dan Pertanian Asia Tenggara (Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center), Institut Pertanian Bogor mengadakan lokakarya selama empat hari (7-10 November 2016). Pada dua hari pertama (7-8 November), lokakarya difokuskan pada keamanan kimia (chemical security) pada produk makanan (hasil pertanian, perikanan, dll). Tujuan utama dari Chemical Security Workshop ini adalah (i) memberikan pelatihan terkait monitoring residu bahan kimia (khususnya pestidisa) pada produk pangan, (ii) manajemen penggunaan berbagai bahan kimia pada rantai pengolahan pangan dan (iii) untuk mengidentifikasi resiko bahan kimia utama di Indonesia. Peserta yang hadir pada lokakarya ini terdiri dari pihak pemerintah lintas kementrian, seperti Kementrian Pertanian, Kementrian Perdagangan, Kementrian Perindustrian, Kementrian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) maupun akademisi baik dari lembaga riset maupun universitas di Indonesia dengan jumlah peserta sebanyak 24 orang.

  Pada hari pertama workshop, Mr. Thom Wright selaku Atase Pertanian Amerika Serikat menyampaikan sambutannya. Selanjutnya acara Chemical Security Workshop ini secara resmi dibuka oleh Prof. Anas Miftah Fauzi selaku Wakil Rektor Bidang Riset dan Kerjasama, Institut Pertanian Bogor. Dalam sambutannya, Prof. Anas berharap bahwa lokakarya ini mampu memberikan tangible dan intangible benefits untuk keberdayasaingan produk Indonesia di luar negeri. IPB mendukung penuh pelaksanaan lokakarya ini dan berharap untuk terus dapat berjejaring dengan pihak USDA dan FAS Jakarta. Terdapat tujuh topik yang disampaikan oleh pemateri yang merupakah ahli di bidang keamanan kimia baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, yaitu:

  1. A Chemical Security Perspective in Indonesia disampaikan oleh Dr. Budiawan (Universitas Indonesia)
  2. The Importance of Chemical Security – Main Risks disampaikan oleh Dr. Jason Sandahl (USDA/FAS)
  3. Basic Country Needs for Managing Chemical Security Risks: Chemical Regulations, Risk Assessment, Monitoring Programs, Laboratories, and Enforcement Programs disampaikan oleh Luis Suguiyama (EPA)
  4. Chemical Risk Assessment Principles: Human Health and Environmental Risks disampaikan oleh Dr. David Stone (Oregon State University)
  5. Four Case Examples: Organophosphate, Rodenticide, Fumigant, and Heavy Metal disampaikan oleh Dr. David Stone (Oregon State University)
  6. Management of Obsolete Chemical Stockpiles disampaikan oleh Luis Suguiyama (EPA)
  7. Development of a Highly Hazardous Pesticide (HHP) Risk Reduction Action Plan disampaikan oleh Dr. Jason Sandahl (USDA/FAS)

  Setelah pemaparan materi terkait keamanan pangan yang terbagi dalam tiga sesi, peserta workshop yang terbagi ke dalam tiga kelompok diskusi selanjutnya melakukan identifikasi risiko keamanan kimia di Indonesia, program dan langkah terkait keamanan kimia serta pengembangan kapasitas yang dibutuhkan untuk meningkatkan manajemen dari risiko keamanan kimia di Indonesia. Agenda pelaksanaan Chemical Security Workshop ditutup dengan presentasi dari setiap kelompok diserta sesi tanya jawab di hadapan seluruh peserta.

  Selanjutnya, workshop terkait Pertahanan Pangan (Food Defense) diadakan dari tanggal 9-10 November 2016. Acara ini dibuka oleh Prof. Aman Wirakartakusumah selaku Advisory board dan Senior Scientist SEAFAST Center LPPM IPB. Sebelumnya, Mr. Ali Abdi selaku perwakilan dari USDA/FAS Jakarta juga memberikan kata pembukaan. Acara pembukaan ini dipandu oleh Dr. Azis Boing Sitanggang selaku ketua pelaksana workshop.

Selain melibatkan para peserta dari Chemical Security Workshop sebelumnya, pada lokakarya pertahahan pangan juga akan mengundang perwakilan industri-industri makanan beserta asosiasi pangan yang ada di Indonesia. Mengingat Sistem Pertahanan Pangan (Food Defense System) merupakan bentuk pencegahan dari bio-terrorism, perwakilan dari Kementrian Pertahanan melalui Lemhannas hadir juga pada lokakarya ini. Jumlah peserta yang hadir pada lokakarya ini adalah sebanyak 67 orang. Tujuan utama dari lokakarya ini adalah (i) menginformasikan dan meningkatkan kesadaran pembuat kebijakan (pemerintah), peneliti, akademisi dan pihak industri terkait isu-isu Pertahanan dan Keamanan Pangan, (2) memberikan pemahaman tentang Pertahanan Pangan dan Sistem Pertahanan Pangan serta manfaat sosial ekonominya (3) mengidentifikasi “tools” Sistem Pertahanan Pangan di Indonesia yang dapat diaplikasikan. Sama halnya dengan workshop sebelumnya, sesi diskusi dipandu oleh fasilitator dimana peserta dapat menyampaikan/mempresentasikan hasil diskusi dalam forum tersebut.

Sama halnya dengan Chemical Security Workshop sebelumnya, Food Defense Workshop juga terdiri atas sesi penyampaian materi dengan topik-topik terkait pertahanan pangan dan sesi Focus Group Discussion (FGD). Berikut merupakan topik materi yang disampaikan oleh para pakar ketahanan pangan dari latar belakang berbeda:

  1. Food Defense: Global Importance disampaikan oleh Neal Fredrickson (Food Protection and Defense Institute)
  2. Developing a National Food Defense Action Plan disampaikan oleh Marianne Elbertson & Bryan Norrington (USDA/Food Safety and Inspection Service (FSIS)
  3. Understanding Vulnerabilities disampaikan oleh Ned Mitenius (Periscope Consulting)
  4. Implementing Food Defense Plans and the Industry Perspective disampaikan oleh Ned Mitenius (Periscope Consulting)
  5. Food Defense: The Academic Perspective disampaikan oleh Prof. Purwiyatno Hariyadi (Senior Scientist, SEAFAST Center, Bogor Agricultural University)
  6. Mitigation Strategies disampaikan oleh Neal Fredrickson (Food Protection and Defense Institute) dan Ned Mitenius (Periscope Consulting)
  7. Food Defense Initiatives, Tools, and Resources disampaikan oleh Neal Fredrickson (Food Protection and Defense Institute)
  8. Food Defense: The Role of Law Enforcement disampaikan oleh Fred Stephens (Federal Bureau of Investigation)
  9. Food Defense: Regional Perspective disampaikan oleh Dr. Warapa Mahakarnchanakul (Kasetsart University)
  10. Food Defense: The Necessity of Its Implementation in Indonesia disampaikan oleh Prof. Dedi Fardiaz (Senior Scientist, SEAFAST Center, Bogor Agricultural University)

  Seluruh rangkaian acara Chemical Security dan Food Defense Workshop ditutup pada hari Kamis, 10 November 2016. Diharapkan melalui acara ini peserta dapat memperoleh manfaat dan pengetahuan yang selanjutnya dapat diimplementasikan di lingkungan kerja atau instansi yang terkait untuk mencapai kondisi pangan yang aman untuk dikonsumsi di Indonesia.

CSW&FD Workshop CSW&FD Workshop
CSW&FD Workshop CSW&FD Workshop
CSW&FD Workshop CSW&FD Workshop
CSW&FD Workshop

Presentations